*PUASANYA ORANG JAWA*

Yang sering dilakukan


_*"Aku diajari berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga*. Eyang mengajariku berpuasa buat menahan keinginan, *untuk mengetahui sampai di mana aku dapat mengatur kekuatan dalam diriku*


_Bagi manusia Jawa, puasa itu semacam *kontemplasi dan bertapa*. 

Waktunya mawas-diri, introspeksi ...! 

Semua dilakukan atas kesadaran dan tekad diri, 

*karena itu ada banyak jenis puasa dalam masyarakat Jawa.* Dari yang terkesan sangat berat, ringan, hingga lucu. 

*Ada puasa weton, Senin-Kemis, pendem, pati geni, ngalong, ngrowot, mbisu, mutih, ngedan, dan sebagainya.*_


_Yah, ada itu puasa atau bertapa ngedan, *menjalani ritual layaknya orang gila*. Pergi ke mana saja tanpa tujuan, tanpa bekal apapun. Makan apa saja yang ditemui dan tidur di sembarang tempat, *tapi hati tetap eling pada yang Mahakuasa.* Dan tidak masalah puasa macam itu, orang dia ngedan, *tapi dia tidak ganggu, ngamuk, atau merugikan orang lain*. 


Sekarang kan banyak, orang yang sepertinya waras *tapi edan atau gila beneran, seperti orang yang sudah kaya-raya kok masih maling atau korupsi, itu kan sama dengan kadang panas-kadang udan, kadang waras-kadang edan*_.


_Ada teman saya yang pernah lakukan bertapa atau puasa ngedan. Dia ceritakan pengalamannya yang sangat menyentuh, “Waktu itu malam sudah sangat larut. Hujan yang turun dari sore tadi belum juga mereda. Aku kelaparan, dalam kesendirian, dan kedinginan di emper sebuah toko. Sementara tidak jauh dariku, ada warung tenda yang sepi pengunjung. *Hanya pemilik warung dan beberapa wanita PSK yang ada di situ.”*_


_Mata teman saya yang sedari tadi berkaca-kaca, tidak bisa lagi dia menahan air matanya menetes, ketika dia ceritakan, *ada seorang wanita PSK yang menghampiri  dan memberinya sebatang rokok yang sudah dinyalakan, beberapa kue, dan kopi hangat yang dimasukkan di bekas botol air mineral.*_

_“Aku melihat *jiwa yang sedemikian tulus dan indah di dunia yang sedemikian kelam*. Aku tak punya keberanian lagi untuk menghakimi sesamaku, *hanya karena melihat penampilan luarnya saja.”* 

Kata temanku yang semakin arif dan penuh empati *setelah menjalani puasa ngedan.* 


Sangat beda dengan kebanyakan orang saat ini yang suka ngedan *(menggilakan diri)* menghalalkan segala cara untuk bisa mereguk segala ambisi dan hasyratnya. 

*Rakus, serakah, munafik, dan menipu pun jadi mentalnya.*_


_Pernahkah terlintas di benak kita, *keanehan di tiap bulan puasa?.* Bulan ketika kita mengurangi nafsu makan dan minum, *tapi kenapa tingkat komsumtif masyarakat kita naik tinggi justru di bulan ini.* Coba tanya ibu-ibu yang sangat paham urusan dapur, mereka semua pasti sependapat, pengeluaran untuk dapur di bulan puasa pasti lebih tinggi daripada bulan-bulan biasanya. *Kenapa bisa terjadi paradok seperti itu?*_


_Jauh-jauh hari sebelum puasa, iklan sirup, biskuat, obat maag atau lambung, termasuk mie instan terus dijejalkan. Dan ustadz-ustadz seleb jadi bintang iklannya. *Hari-hari kita diisi iklan, hasutan dan khotbah, hingga kita tak pernah tahu jatidiri sendiri, karena hati ini telah terpasung, pikiran terborgol.* Dan iklan janji surga, *membuat banyak orang ingin puasa?* Kata pak ustadz ini bulan setan pada dikurung? *Tapi kenapa manusianya malah pada kesetanan, begitu bernafsu atau serakahnya pada makanan di bulan puasa ini.*_


_Saya tidak menganggap puasa itu tidak baik. *Tapi puasa yang bagi manusia Jawa adalah urusan pribadi*, itu dijadikan gerakan masal-formalitas, maka yang terjadi adalah banyak paradok. Bahkan cenderung munafik. Puasa dijalani, *tapi penuh dendam.* Begitu waktunya berbuka, *segala hal yang ingin dimakan harus tersedia*. Biasanya mau makan seadanya, *karena berpuasa maka makannya harus beda - yang enak-enak atau ....*_


_Bahkan ada orang-orang yang di bulan puasa dan tentu juga dia sedang puasa, *tapi dia kerjaannya marah dan ngamuk-ngamuk tiap melihat warung-warung makan yang masih buka. Ini manusia sungguh memalukan*. 


Para budak dogma yang tidak lebih dari manusia *zombie yang tidak ada otak dan jiwanya*._


_Orang puasa itu dijanjikan surga, *masak masih kurang penghargaan itu.* Hingga masih butuh *penghargaan atau penghormatan dari manusia waktu berpuasa*. Kenapa puasa justru keserakahan yang dipamerkan. Juga pamer kekayaan, kemapanan. Belum lagi polusi udara yang ditimbulkan di tiap bulan puasa. *Ah, mungkin di bulan ini bisa juga kita ambil sisi posistifnya*, 


*inilah bulan di mana kita belajar untuk bisa lebih sabar. Apalagi kata Eyangku, sabar itu harus dewasa dan harus dapat menahan segala nafsu hewani. Sabar itu tidak pendedam. Sabar itu ikhlas.* 


Dan kata pak ustad, *ada orang berpuasa tapi tidak dapat pahala apa-apa, selain cuma dapat lapar dan haus doang.*


*Mari kita sambut bulan puasa ini dengan penuh berkah, dan bisa kita jalankan dengan Sadar, Sabar, Syukur dan Ikhlas*

Seperti yang selalu aku dengar dari kakekku saat aku masih bocah di jaman itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balai Desa

MENGUBAH TAKDIR

MEMAKMURKAN MASJID