TAKDIRKU
26 Mei 1963
Alhamdulillah Aku ditakdirkan lahir 26 Mei 1963, tepatnya hari Ahad Pahing. Dari pasangan Bapak Parto Panut dan Ibu Painem. Di sebuah rumah kecil Dukuh Klampok, Desa Mangunreja, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan. Dari lima bersaudara Saya sebagai anak kelima. Tiga saudaraku meninggal dunia saat masih kecil. Karena itulah makanya Saya sejak lahir ditindik layaknya anak perempuan. Bukan berarti sebagai tanda anak jalanan kayak umumnya saat ini. Namun katanya "digondheli" agar tidake meninggal masih kecil kayak tiga saudaraku yang lain. Jadi Saya tinggal dua bersaudara Kang Sarjo nama kakakku yang sampai saat ini masih hidup.
Kang Sarjo kini tinggal dirumah keprabon (rumah peninggalan orang tua) bersama dengan Sugiyono, anak keduanya. Tiga anaknya yang lain ada yang di Riau (Irianto sebagai anak pertama), Rudi Santoso sebagai anak kedua tinggal di Takeran, dan anaknya keempat Wahyudi tinggal di Krajan Parang.
Sejak kecil Saya tinggal dua bersaudara. Karena keduanya laki-laki, Simbok bermaksud mengadopsi anaknya P De Giman dari Jaranan Ngadirejo namanya Dik Sarti dikandung maksud agar membantu memasak dikemudian hari, di samping saudaranya Dik Sarti cukup banyak ada 8 bersaudara, sekaligus meringankan beban P De Giman dalam mencukupi kebutuhan keluarganya.
Saya tumbuh berkembang layaknya anak desa. Ketika usiaku 7 tahun saat sekolah disekolahkan di SD Mangunreja satu-satunya sekolah di desaku. Saat itu belum ada TK, jadi semua langsung masuk SD.Tepatnya bulan Januari tahun 1971 saya masuk klas 1.
Banyak pengalaman di SD Mangunreja yang Saya peroleh bersama teman-teman. Misalnya saat istirahat kami bersama teman-teman kadang-kadang mandi disungai disebelah selatan sekolah, saking asyiknya lupa waktu kalau sudah harus masuk kelas lagi. Ada yang salto melompat dari jembatan mencebur ke "Kedung" (bagian sungai yang dalam genangan airnya). Akhirnya mendapat sangsi dari Bapak/Ibu Guru karena pelanggaran tadi.
Juga yang masih ingat saya sering mendapatkan bonus uang atau jajan dari temanku ( Mas Sukimin) namanya, yang selalu minta dibisi/diajari jika disuruh membaca maju dipapan tulis, karena Beliau belum begitu lancar membaca. Masih ada lagi beberapa teman ku juga minta diajari dalam pelajaran yang lain.
Ditengah perjalananku sekolah SD dihadapkan duka yang mendalam dengan meninggalnya Bapakku tercinta ( Bapak Parto Panut) hari Sabtu pahing jam 16. 00. Saat itu umurku 10 tahun, saya kelas 3 SD. Karena belum cukup umur dengan sepeninggal Bapakku ya biasa saja tidak terlalu terpukul. Mungkin karena dirumah masih ada Simbok, Kakak, dan Adik angkat jadi tidak terlalu sepi. Simbokpun tetap bertahan menjada sampai meninggal. Masalahnya bukan berarti tidak ada laki-laki yang mau nikah dengan Simbok.Namun semata-mata hanyalah karena ingin mendidik dan membesarkan anak sendiri tanpa minta bantuan orang lain. Alhamdulillah dengan jerih payah dan kekuatan seorang diri bisa mwngaqa
Hebatnya Simbok Saya ( Almh Painem) walaupun Beliau tidak bisa membaca maupun menulis, selalu mendampingi saat Saya belajar, sering dibuatkan makanan camilan khas desa. Misalnya nasi Karak yang digoreng lantas diberi gula, kadangkala nasi Karak dikukus lagi rasanya nikmat sekali. Juga sering dibuatkan menir/beras kecil-kecil yang dikukus rasanya kayak ketan. Kadang-kadang menu yang dari keltela, baik direbus, digoren,atau dibuat Gatot dan lain-lainnya,pokoknya ada saja menu yang saat ini sudah hampir tidak pernah dikenali anak-anak sekarang.
Yang hebat lagi saat Saya kelas 6 menjelang ujian Beliau sowan ke guru SD tetanggaku, untuk dititipkan agar diajari agar ujian hasilnya baik. Beliau Bapak Rebi (Almh) namanya kebetulan Kepala SD Sampung saat itu. Tiap jam 5 an sore Saya diantarkan kerumahnya jalan kaki kira-kira berjarak 1 km dari rumahku. Trus jam 9an dijemput atau kadang kala dibiarkan menginap dirumahnya pak Guru Rebi.
Bersyukur saat ujian tiba benar adanya, berkat belajar tekun didampingi oleh Pak Guru Rebi hasil ujianku sangat memuaskan. Terbukti ketika acara perpisahan alhamdulilah terpilih sebagai peringkat pertama.
Komentar
Posting Komentar